Berita

Informasi tentang SLB/B Dena Upakara Wonosobo

SLB/B Dena-Upakara

SLB/B Dena-Upakara

Tuli Berprestasi

Kamis, 28 Desember 2017 01:08

Sarana dan Prasarana

TKLB

Fasilitas

1. Kelas Taman Bermain

1. Kolam Renang

2. Kelas Persiapan 1

2. Laboratorium Komputer

3. Kelas Persiapan 2

3. Laboratorium IPA

4. Kelas Persiapan 3

4. Perpustakaan

 

5. Ruang Kesenian

SDLB

6. Aula

1. Kelas Dasar 1

7. Ruang Tata Boga

2. Kelas Dasar 2

8. Ruang Menjahit

3. Kelas Dasar 3

9. Ruang Kecantikan

4. Kelas Dasar 4

10. Ruang Pertemuan

5. Kelas Dasar 5

11. Ruang Bina Wicara

6. Kelas Dasar 6

12. Ruang Audiologi

 

13. Ruang Bermain

SMPLB / Kejuruan

14. Asrama Putri

1. Kelas Kejuruan 7

 15. Ruang Tamu

2. Kelas Kejuruan 8

16. Ruang TU 

3. Kelas Kejuruan 9

 
   
Sabtu, 10 September 2016 01:35

Sejarah Sekolah

Sekolah luar biasa (SLB) Dena Upakara terletak di jalan Mangli no. 5 Wonosobo, yang sebelumnya menyewa di Sumberan Barat. Karena muridnya bertambah banyak maka para suster PMY membangun gedung baru. Nama “Dena-Upakara” berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti daina atau dena, artinya yang hina, sedangkan upakara artinya pelihara. Maka “Dena-Upakara” berarti “yang hina dipelihara, diasuh, diperhatikan, dan dirawat.” Nama tersebut dipilih oleh ahli bahasa jawa kuno yaitu Pastor J. Zoetmulder SJ. Karena lembaga ini didirikan di Pulau Jawa, maka Bahasa Jawalah yang digunakan untuk memberi nama lembaga. Seusai dengan namanya yang bernafaskan bahasa dan kebudayaan Jawa, sejak semula pendiri mengarahkan tujuan lembaga untuk mengembangkan pendidikan bagi pribumi Indonesia yang dianggap hina karena cacat.

Pemrakarsa “Dena-Upakara” Mgr. A. Hermus adalah seorang pastor yang diangkat menjadi Direktur Pendidikan Anak Tunarungu St. Michielsgestel, di Nederland, pada tanggal 20 Juli 1909 – 3 Oktober 1940. Sebelum menjadi direktur, beliau telah bekerja sebagai guru di lembaga tersebut sejak tahun 1902. Romo Hermus berpikir “jika anak orang kaya memiliki kekurangan, bisa menyekolahkan anak mereka dengan anaknya. Lalu bagaimana dengan orang-orang miskin di negeri yang sedang berkembang memiliki nasib seperti mereka. Apakah tidak ada kesempatan untuk mendidik anaknya menjadi pribadi yang lebih mandiri.”

Pemikiran itulah yang mencetuskan ia untuk membantu mengembangkan pendidikan bagi anak tunarungu di Indonesia. Cita-cita tersebut kemudian dituangkan secara konkret dalam surat permohonan untuk mendirikan Lembaga Anak Tunarungu di Indonesia kepada Vikaris Apostolik di batavia, Mgr. Van Velsen, dan kepada pastor Van Ryckevorse I SJ, pendiri sekolah – sekolah dasar bagi Bumi Putera Indonesia di jawa Tengah.

Berdasarkan perundingan antara pimpinan St. Michielsgestel dan Dewan Pimpinan Konggregasi Suster Puteri Maria dan Yosef yang berpusat Choorstraat 7’5 Hetogenbosch, Nederland, maka konggregasi Suster PMY akan memulai karya cinta kasih di Hindia Belanda. 

Pemimpin Umum Konggresi PMY pada saat itu, Moeder M. Venantia Van Maanem, menugaskan lima orang Suster (Sr.) untuk mengawali karya baru di Jawa Tengah. Kelima serangkai perintis Lembaga Pendidikan Anak Bisu Tuli Dena Upakara tersebut yaitu Sr. Augustina, Sr. Bonaventura, Sr. Canesia, Sr. Geertruida, dan Sr. Maria Alacoque. Mereka melakukan perjalanan selama ± 30-40 hari (tidak diketahui secara pasti berapa hari perjalanan tersebut karena tidak ada bukti fisik, hang cerita orang yang pernah bersama dengan mereka) dari Netherlands sampai Batavia, setelah dirasa cukup beristirahat di Batavia perjalanan dilanjutkan lagi ke Purwakarta. Sesampainya disana mereka mencari tempat untuk dijadikan Pendidikan bagi anak Tuna Rungu, hingga diputuskanlah akan mendirikan di Wonosobo dengan pertimbangan tempatnya sejuk seperti di Netherlands.

Peletakan batu pertama terjadi pada tanggal 15 januari 1938, mereka resmi memulai menerima murid pada tanggal 15 maret 1938. Pada waktu itu murid Laki-Laki dan perempuan masih digabung, karena merasa jika dicampur terus-menerus tidak bagus untuk perkembangan mereka. Maka sejak tahun 1955 murid Laki-Laki dan perempuan dipisah, dengan pembagian murid perempuan tetap di SLB Dena Upakara diasuh oleh para Suster dan murid Laki-Laki dibuatkan gedung baru di sebelah barat Statiun Kereta Api Wonosobo dengan nama SLB Don Bosco diasuh oleh para Budder.

Pada saat jepang mengekspansi Indonesia tahun 1942, datang sebagai saudara tua, orang-orang Belanda ditangkap termasuk kelima Suster tersebut. Sr. Canesia karena berasal dari Jerman di deportasi ke negaranya kembali. Sedangkan ke-4 Suster lainnya di penjara di Ambarawa, disebabkan tempat penampungan para tahanan yang tidak layak Sr. Maria Alacoque meninggal dunia dan makamnya pada tahun 2000-an dibongkar kembali untuk di pindah ke Wonosobo yang sebelumnya berada di Ambarawa.

Selama penjajahan Jepang, SLB Dena Upakara tetap aktif mengajar tapi ditangan para Suster Indonesia, meskipun kegiatan belajar mengajar tidak kondusif karena SLB Dena Upakara juga dijadikan markas tentara PETA (Pembela Tanah Air). Setelah Indonesia merdeka SLB Dena Upakara masih tetap dijadikan markas tentara Indonesia. Pada saat Bung Karno kesekian kalinya berkunjung ke hotel Merdeka (kini Krisna), ada Suster yang melapor tidak bisa mengajar dengan kondusif karena sekolah masih dipakai tentara. Menanggapi keluhan Suster tersebut lalu Bung Karno saat itu juga meminta para tentara keluar dari sekolahan.

Rabu, 07 September 2016 18:15

Visi dan Misi Sekolah

Visi dari SLB/B Dena Upakara Wonosobo yaitu :

"Mewujudkan SLB/B "Dena-Upakara" Wonosobo sebagai komunitas kasih yang menjadi taman bagi siswa, guru, orang tua, dan yang terlibat di dalamnya untuk belajar mendengarkan dan berkomunikasi dengan budi, dan hati sehingga menjadi pribadi yang berprestasi, kreatif, mandiri, inklusif, dan berintegritas , dalam menghadapi tantangan zaman".

      MISI

      Adapun misi dari SLB/B "Dena-Upakara" sebagai berikut.

  1. Meningkatkan mutu pendidikan siswa dengan menjalin kerja sama dengan orang tua, murid, dan pendamping asrama dalam :
    a. Membangun sistem komunikasi dan aktifitas yang kondusif dan sehat dalam menciptakan sekolah sebagai komunitas kasih.
    b. Mengembangkan keterampilan komunikasi siswa
    c. Memahami dan mengenal profil setiap siswa, serta keunikannya masing-masing, serta memahami bakat, minat, dan potensinya baik di bidang akademis dan non-akademis, sehingga memiliki kompetensi dan menjadi pribadi yang berprestasi, kreatif, mandiri, infklusif, dan berintegritas.
  2. Mengembangkan mutu pendidikan siswa dalam menghadapi kebutuhan dan tantangan zaman dengan menjalin kerjasama dan berjejaring dengan berbagai pihak, pemerhati pendidikan, pemangku pendidikan, dunia usaha.
Halaman 4 dari 4

Cari

Pengunjung

050019
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
134
49885
14
50019

Your IP: 216.73.216.158
2026-03-17 10:39